Postingan Populer

Senin, 29 April 2019

PAPER


KERUSAKAN LINGKUNGAN
untuk meemenuhi salah tugas mata kuliah Aspek Lingkungan







Disusun oleh,
Andini Suci Maharani_167011039
Rima Nur Rohmah_167011033
Rizki Alimuddin_167011067
Taofik Rizkyana P._167011081



TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SILIWANGI
2017

PENDAHULUAN
Lingkungan merupakan kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup kondisi alam dengan perilaku manusia yang berada di lingkungan yang bersangkutan. Manusia merupakan unsur utama dalam lingkungan, baik buruknya, terjaga dan rusaknya lingkungan sebagian besar diperankan oleh perilaku manusia.
Keadaan suatu lingkungan tergantung pada sikap dan perilaku manusia, jika kita menjaga dan bersikap baik dengan lingkungan sekitar maka lingkungan tersebut akan bersih dan nyaman. Sebaliknya pula ketika manusia bersikap tidak adil dan merusak lingkungan maka lingkungan tersebut akan rusak, kotor hingga menimbulkan berbagai permasalahan. Lingkungan dapat menentukan masa depan, ketika saat ini kita menjaga lingkungan maka generasi selanjutnya akan mendapatkan lingkungan yang baik, sebaliknya pula ketika sekarang misalnya menguras sumberdaya alam tanpa pemberdayaan kembali hingga musnahlah, maka generasi selanjutnya tidak akan mendapatkan lingkungan yang baik dan nyaman.
Lingkungan memiliki cakupan yang luas hingga mempenaruhi paradigma kehidupan, dengan kata lain aspek lingkungan bergantung kondisi lingkungan. Oleh karena itu, kita harus menjaga lingkungan hidup kita agar tidak terjadi berbagai problem yang diakibatkan dari lingkungan. Upaya dalam menjaga lingkungan yang paling inti adalah pola pikir, Indonesia kaya akan sumberdaya alam dan merupakan negara maritim, namun mirisnya makanan pokok masih bergantung pada negara lain bahkan garam pun masih Inpor. Sangat disayangkan Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Namu, belum bisa mengmbangi pengelolaan sumber daya alam dan lingkungannya dengan efektif. Padahal melihat daripada kemelihampahan sumber daya alam dan suber daya manusia harusnya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. Pola piker manusia kala ini sudah banyak dipengaruhi oleh ekonomi, serta krisis perekonomian yang membuat masyarakat mengesampingkan kondisi lingkungan. Dalam kesempatan kali ini kami akan menjelaskan beberapa kerusakan yang terjadi di lingkungan sekitar kita.


















Kerusakan lingkungan akibat proses alam adalah kerusakan terhadap lingkungan hidup yang disebabkan oleh faktor alam. Kerusakan ini terjadi secara alami tanpa campur tangan atau peranan manusia. Meskipun terkadang manusia pun bisa menjadi pemicu awal terjadi proses kerusakan lingkungan secara tidak langsung.
Kerusakan lingkungan hidup oleh faktor alam disebabkan terjadinya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat sehingga memengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi di luar pengaruh aktifitas manusia sehingga manusia tidak mampu mencegah terjadinya.
Beberapa peristiwa alam yang dapat memengaruhi kerusakan lingkungan, antara lain letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, banjir, badai dan angin topan, kemarau panjang (kekeringan), dan tsunami.
Kerusakan Lingkungan Akibat Gunung Meletus
Keusakan lingkungan yang diakibatkan oleh gunung meletus
Gunung meletus adalah peristiwa keluarnya endapan magma dari perut bumi yang didorong oleh gas bertekanan tinggi yang terjadi pada gunung-gunung berapi. Hasil letusan gunung berapi antara lain lava, lahar, gas vulkanik, hujan abu, dan awan panas yang dapat mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Bentuk kerusakan lingkungan yang dapat diakibatkan oleh meletusnya gunung berapi antara lain :
  • Material padat yang dilemparkan oleh gunung api berupa batuan, kerikil, dan pasir yang dapat merusak, menimpa, bahkan menimbun lahan pertanian, hutan, perkebunan, hingga pemukiman penduduk dan sumber air bersih.
  • Hujan abu vulkanik yang menyertai letusan gunung berapi menyebabkan gangguan pernafasan, mempengaruhi jarak pandang dan intensitas cahaya matahari, menutup dan merusak tanaman pertanian, mengganggu aktifitas transportasi, dan sebagainya sebagainya, sehingga akan mengurangi produksi dan aktivitas manusia.
  • Lava panas (pijar) yang meleleh merusak daerah yang dilaluinya, baik berupa hutan, perkebunan, lahan pertanian hingga pemukiman penduduk.
  • Awan panas dengan berbagai material yang dibawanya, bergerak dalam kecepatan tinggi dan suhu yang mencapai ratusan derajat dapat menghanguskan wilayah yang diterjangnya termasuk menewaskan manusia dan makhluk hidup lainnya.
  • Aliran lahar dapat menyebabkan pendangkalan sungai, atau menyebabkan terjadinya banjir bandang saat musim penghujan.
  • Gas yang mengandung racun dapat mengancam keselamatan manusia, hewan, dan tumbuhan di sekitarnya.


Kerusakan Lingkungan Akibat Gempa Bumi
Gempa bumi adalah peristiwa alam berupa getaran atau gerakan bergelombang pada kulit bumi yang ditimbulkan oleh tenaga dari dalam secara tiba-tiba. Gempa bumi  mengakibatkan kerusakan lingkungan berupa :
  • Kerusakan bangunan.
  • Tanah longsor.
  • Perubahan struktur tanah dan batuan
  • Degradasi lahan dan kerusakan bentang lahan
  • Pencemaran udara
  • Krisis air bersih
  • Tsunami (gempa bumi di laut)
  • Jatuhnya korban baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Kerusakan Lingkungan Akibat Tanah Longsor
Tanah longsor adalah peristiwa geologi yang diakibatkan oleh pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Tanah longsor dapat diakibatkan oleh erosi karena gerusan air pada kaki lereng yang curam, melemahnya lereng dari bebatuan dan tanah akibat saturasi yang diakibatkan hujan lebat, getaran dari gempa bumi, gunung meletus, maupun mesin dan lalu lintas kendaraan, serta dipicu oleh minimnya pepohonan pada tebing-tebing curam.
Tanah longsor mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti kerusakan bangunan, kerusakan lahan pertanian dan perkebunan, memutus jalur transportasi, krisis air bersih hingga jatuhnya korban.

Kerusakan Lingkungan Akibat Banjir
Banjir adalah peristiwa terendamnya daratan oleh air yang berlebihan. Banjir mengakibatkan kerusakan mulai dari kerusakan fisik, terkontaminasinya air bersih, membunuh tumbuhan yang tidak tahan air dan hewan, pencemaran lingkungan, penyebaran penyakit, hingga bencana susulan seperti longsor serta jatuhnya korban.
Kerusakan Lingkungan Akibat Badai dan Angin Topan
Badai, angin topan, angin puting beliung, angin ribut, dan sejenisnya adalah bencana alam yang disebabkan oleh pergerakan udara yang sangat kencang yang dipicu perbedaan tekanan udara. Bencana ini mengakibatkan kerusakan lingkungan diantaranya robohnya (rusaknya) bangunan dan pepohonan, rusaknya area pertanian dan perkebunan, dan tingginya ombak di laut.
Kerusakan Lingkungan Akibat Tsunami
Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Tsunami dapat diakibatkan oleh gempa bumi yang terjadi di laut, letusan gunung berapi bawah laut, ataupun longsor di dasar laut. Tsunami meninggalkan kerusakan lingkungan di dalam laut maupun di sekitar pantai. Kerusakan-kekrusakan tersebut diantaranya adalah rusaknya terumbu karang dan lamun, kerusakan fisik di sekitar pantai, serta jatuhnya korban manusia.
Kerusakan Lingkungan Akibat Kekeringan
Kekeringan mengakibatkan kerusakan lingkungan
Kekeringan adalah kurangnya pasokan air pada suatu lokasi yang berlangsung berkepanjangan dan umumnya terjadi pada musim kemarau. Kekeringan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan berupa kerusakan lahan pertanian dan perkebunan, menurunnya kualitas tanah, hingga matinya organisme.
Bencana-bencana alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan sebagaimana tersebut di atas, beberapa diantaranya murni karena proses alam. Sehingga terjadinya mutlak dipengaruhi faktor alam tanpa campur tangan manusia. Namun pada beberapa peristiwa alam, sering kali, secara tidak langsung terkait juga dengan aktifitas yang dilakukan manusia. Sebagai contoh bencana banjir dan tanah longsor yang kerap kali menjadi imbas dari aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Pun pada bencana alam kekeringan yang bisa dipicu aktifitas manusia yang menyebabkan kurangnya air yang terserap sebagai cadangan air di dalam tanah.


Penyebab dan dampak pencemaran air oleh limbah pemukiman sepertinya menjadi salah satu sumber utama dan penyebab pencemaran air yang memberikan dampak paling kentara terutama pada masyarakat perkotaan di Indonesia.
Limbah pemukiman (rumah tangga) yang menjadi salah satu penyebab pencemaran air diakibatkan oleh aktivitas manusia itu sendiri. Dan pada akhirnya pencemaran air ini juga memberikan dampak dan akibat merugikan bagi manusia itu pula.
Pnaegagunn deterjen yang berlebihan merangsang tumbuhnya eceng gondok (gambar wikipedia)
Sebagaimana pernah saya tulis dalam artikel Pencemaran Air di Indonesia, pencemaran air merupakan suatu perubahan keadaan tempat penampungan air yang mengakibatkan menurunnya kualitas air sehingga air tidak dapat dipergunakan lagi sesuai peruntukannya. Perubahan ini diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Limbah Pemukiman. Salah satu penyebab pencemaran air adalah aktivitas manusia yang kemudian menciptakan limbah (sampah) pemukiman atau limbah rumah tangga.
Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan. Sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet, dan kulit. Sampah anorganik ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable).
Selain sampah organik dan anorganik, deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air. Padahal saat ini hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen.
Dampak pencemaran air yang disebabkan oleh limbah pemukiman mendatangkan akibat atau dampak diantaranya:
  • Berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air karena sebagian besar oksigen digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses pembusukan sampah.
  • Sampah anorganik ke sungai, dapat berakibat menghalangi cahaya matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen.
  • Deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri sehingga akan tetap aktif untuk jangka waktu yang lama di dalam air, mencemari air dan meracuni berbagai organisme air.
  • Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau yang merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok (Eichhornia crassipes).
  • Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.
  • Tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang) yang mati membawa akibat proses pembusukan tumbuhan ini akan menghabiskan persediaan oksigen.
  • Material pembusukan tumbuhan air akan mengendapkan dan menyebabkan pendangkalan.
Selain diakibatkan oleh limbah pemukiman (rumah tangga) sumber atau penyebab pencemaran air juga disebabkan oleh limbah pertanian, limbah industri, dan di beberapa tempat tertentu diakibatkan oleh limbah pertambangan.
Menangani Limbah Pemukiman. Perlu kesadaran dari semua lapisan masyarakat untuk berlaku bijak dengan limbah rumah tangga yang dihasilkannya.
Pengelolaan sampah, perubahan gaya hidup dan pola pikir tentang sampah, melakukan 3R (Reuse Reduce dan Recycle), serta tidak membuang sampah terutama di sungai dan tempat penampungan air semisal sungai dan danau perlu dilakukan oleh semua pihak untuk mengurangi dampak pencemaran air yang disebabkan oleh limbah rumah tangga (pemukiman).
Dan semua itu hanya bisa diwujudkan dengan sebuah tindakan kecil sebagai awalan; memulai dari diri sendiri!


Penyebab dan dampak pencemaran udara yang paling utama selalu terkait dengan manusia. Manusia menjadi penyebab utama dan terbesar terjadinya pencemaran udara. Pun manusia pula yang merasakan dampak terburuk dari terjadinya pencemaran udara.
Pencemaran udara merupakan salah satu kerusakan lingkungan, berupa penurunan kualitas udara karena masuknya unsur-unsur berbahaya ke dalam udara atau atmosfer bumi. Unsur-unsur berbahaya yang masuk ke dalam atmosfer tersebut bisa berupa karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (No2), chlorofluorocarbon (CFC), sulfur dioksida (So2), Hidrokarbon (HC), Benda Partikulat, Timah (Pb), dan Carbon Diaoksida (CO2). Unsur-unsur tersebut bisa disebut juga sebagai polutan atau jenis-jenis bahan pencemar udara.
Masuknya polutan  ke dalam atmosfer yang menjadikan terjadinya pencemaran udara bisa disebabkan dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Penyebab pencemaran udara dari faktor adalah alam contohnya adalah aktifitas gunung berapi yang mengeluarkan abu dan gas vulkanik, kebakaran hutan, dan kegiatan mikroorganisme. Polutan yang dihasilkan biasanya berupa asap, debu, dan gas.
Pencemaran udara
Penyebab polusi udara yang kedua adalah faktor manusia dengan segala aktifitasnya. Berbagai kegiatan manusia yang dapat menghasilkan polutan antara lain :
  1. Pembakaran; Semisal pembakaran sampah, pembakaran pada kegiatan rumah tangga, kendaraan bermotor, dan kegiatan industri. Polutan yang dihasilkan antara lain asap, debu, grit (pasir halus), dan gas (CO dan NO).
  2. Proses peleburan; Semisal proses peleburan baja, pembuatan soda, semen, keramik, aspal. Polutan yang dihasilkannya meliputi debu, uap, dan gas.
  3. Pertambangan dan penggalian; Polutan yang dihasilkan terutama adalah debu.
  4. Proses pengolahan dan pemanasan; Semisal proses pengolahan makanan, daging, ikan, dan penyamakan. Polutan yang dihasilkan meliputi asap, debu, dan bau.
  5. Pembuangan limbah; baik limbah industri maupun limbah rumah tangga. Polutannya adalah gas H2S yang menimbulkan bau busuk.
  6. Proses kimia; Semisal pada pemurnian minyak bumi, pengolahan mineral, dan pembuatan keris. Polutan yang dihasilkan umunya berupa debu, uap dan gas.
  7. Proses pembangunan; Semisal pembangunan gedung-gedung, jalan dan kegiatan yang semacamnya. Polutannya seperti asap dan debu.
  8. Proses percobaan atom atau nuklir; Polutan yang dihasilkan terutama adalah gas dan debu radioaktif.
Manusia Penyebab Utama Pencemaran Udara
Emisi akibat gunung meletus masih kalah dibanding emisi akibat aktivitas manusia
Di awal artikel sudah dituliskan bahwa manusia menjadi penyebab utama dan terbesar terjadinya pencemaran udara. Belum lagi jika kebakaran hutan, sebagai salah satu penyebab polusi udara terbesar, dimasukkan sebagai pencemaran udara yang disebabkan oleh manusia. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan sengaja dilakukan oleh manusia.
Faktor alami penyebab pencemaran udara terbesar lainnya adalah meletusnya gunung berapi. Letusan gunung berapi sangat luar biasa. Meskipun demikian, menurut penelitian, seluruh gunung api di dunia mengeluarkan hanya 0,13 hingga 0,44 miliar ton CO2 per tahunnya. Jumlah ini ternyata tidak sebanding dengan emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh manusia melalui pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor. Kendaran bermotor saja menyumbangkan emisi karbon hingga 2 miliar pertahunnya. Pada tahun 2010 saja, berbagai aktivitas manusia telah menambahkan sedikitnya 35 miliar ton emisi karbon dioksida ke atmosfer.

PENCEMARAN SUNGAI

Sumber : INDOPOS.CO.ID
Sebanyak 7.000 ton per hari sampah dibuang ke Sungai Ciliwung

Peristiwa yang seperti terlihat digambar merupakan kerusakan lingkungan yang sangat serius. Dengan sampah yang begitu sangat banyak di kali ciliwung akan berdampak buruk bagi daerah khususnya masyarakat disana.
Sampah yang dibuang ke sungai tersebut akan mempunyai berbagai dampak bagi warga sekitar, diantaranya :
1.    Bagi lingkungan
a.    Air sungai tidak dapat mengalir secara normal karena pada aliran sungai terhambat oleh tumpukan sampah
b.    Pada musim hujan, banjir terjadi karena sungai tidak berfungsi dengan baik.
c.    Ikan-ikan pada spesies tertentu banyak yang punah karena jenis sampah tertentu mengandung zat kimia yang dapat merusak ekosistem di sungai
d.    Kualitas air menjadi buruk disertai dengan bau yang tak sedap.

2.    Bagi Kesehatan Masyarakat
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai tentunya memanfaatkan sungai dalam kehidupan sehari-hari mereka, baik mencuci, memasak, mandi maupun minum. Ketika mereka menggunakan air sungai yang telah tercemar, tentu akan ada efek samping yang dirasakan. Efek samping utama yang diterima oleh masyarakat ialah penyakit. Penyakit yang terjadi umumnya ialah penyakit diare. Diare dapat terjadi akibat protozoa maupun bakteri. Umumnya diare disebabkan oleh bakteri dalam air. Air yang kotor digunakan untuk mencuci sehingga bakteri tertinggal di benda-benda yang kemudian digunakan oleh warga.
Selain diare, penyakit lain yang dapat menyerang warga ialah cacingan. Cacingan terjadi akibat infeksi dari telur cacing yang masuk ke tubuh manusia. Penyakit ini ditandai dengan perut buncit namun kondisi tubuh yang kurus. Penyakit kulit juga merupakan penyakit yang umum diderita masyarakat pengguna air tercemar. Biasanya gatal-gatal ialah ciri utama yang terjadi sebelum penyakit kulit menjadi lebih parah. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan mineral yang beracun untuk kulit.
Adapun untuk memperbaiki kerusakan lingkungan di daerah sungai ciliwung tersebut haruslah kita menanggulanginya, bisa dengan cara :
1.    Pengangkutan Sampah
Pengambilan sampah dari lokasi sungai memerlukan alat yang tepat, dimensi alat yang sesuai dengan keadaan sungai dengan ketepatan gaya apung alat. Kami memikirkan alat alternatif yang dapat berjalan di atas air. Karena keterbatasan akses lokasi sampah, alat harus bisa mengapung di atas sungai dengan perbandingan berat beban sampah yang diangkut kurang dari gaya ke atas alat.

Alat berbadan perahu, berjalan di atas air, dengan net sampah di depan alat. Net ini mengangkut sampah dan meletakkannya di badan tempat sampah ditampung sementara. Setelah penampungan sampah sementara penuh, alat akan berjalan ke arah daratan di tepi sungai dan meletakkan sampah di daratan yang selanjutnya diolah di pengolahan sampah. Di daratan yang ditentukan, akan terdapat sabuk berjalan dimana sampah akan menuju tempat pengolahannya, dengan pemisahan organik dan anorganik.
Spesifikasi alat mempunyai dimensi 60 x 40 cm, menyesuaikan dengan badan sungai. Agar pembuatan alat efisien dapat digunakan bahan seperti paralon bekas untuk pengapung kapal. Atau bahkan mainan anak kecil yang sudah tidak terpakai. Alat mempunyai lengan dengan motor penggerak sebanyak 2 buah, jaring dan baling-baling dibelakang alat. Sesuai dengan dimensi alat dan bahan alat, alat dapat menampung sampah dengan estimasi berat  0.1)kg.
Sistem kontrol alat berjalan secara otomatis dengan sumber tenaga baterai dan panel surya. Alat dapat diprogram dan secara otomatis melakukan pekerjaannya. Di bagian depan alat akan terdapat sensor jarak untuk mengestimasi apakah terdapat sampah di bagian depan alat. Apabila terdapat sampah lengan akan otomatis turun dan mengangkut sampah menuju tempat penampungan sampah sementara di badan alat. Di bagian atas tempat penampungan sampah sementara juga terdapat laser untuk mengindikasikan apakah sampah telah mencapai batas maksimalnya. Dengan dimensi yang relatif kecil, keamanan alat terjamin dalam penggunaannya.
Akan tetapi langkah penanggulangan setelah sampah disungai ciliwung diangkut, masyarakat sekitar harus mampu untuk tidak membuang sampah lagi ke sungai, cara – cara agar tidak membuang sampah lagi ke sungai adalah perlakuan kita sendiri terhadap sampah tersebut, seperti :
·         Replace ( Mengganti )
Yaitu mengganti barang-barang yang tidak tahan lama dan bisa menghasilkan banyak sampah dengan bahan yang awet dan menghasilkan hanya sedikit sampah. Misalnya gelas kaca. Untuk mengurangi sampah dan barang menjadi tahan lama, Gelas kaca bisa kita ganti dengan gelas plastik yang tidak mudah pecah.
·         Reuse ( Memakai Kembali )
Yaitu memanfaatkan kembali barang yang telah terpakai untuk membuat barang lain yang bermanfaat. Misalnya kerajinan tangan, dan mainan.
·         Reduce ( Mengurangi )
Yaitu dengan mengurangi pemakaian barang agar sampah yang dihasilkan akan berkurang juga.
·         Reycle ( Mendaur Ulang ), Yaitu mengolah sampah menjadi barang baru yang bermanfaat.
Namun, selain cara mengatasi masalah sampah dengan 4R, ada beberapa cara lagi untuk menangani sampah yang berserakan dimana-mana. Yaitu.
·         Penimbunan Sampah
Yaitu penanganan sampah dengan cara menimbun sampah di bawah tanah. Menimbun sampah ini bertujuan agar bisa mempercepat penguraian dan mencegah timbulnya bau.
·         Pembakaran Sampah
Yaitu penanganan sampah dengan cara membakar habis sampah agar musnah
·         Pengelompokan Sampah
Yaitu dengan mengelompokan/memisahkan jenis sampah Organik dan Anorganik agar mudah di daur ulang.
















PEMBAKARAN HUTAN DI GUNUNG GUNTUR GARUT
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah V Gede Putra mengatakan kebakaran hutan di Gunung Guntur, Garut, Senin (4/9) malam diduga sengaja dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut dilihat dari sejumlah indikasi yang petugas temukan saat penyisiran di Gunung Guntur. Namun Gede mengaku belum mengetahui motif pembakaran tersebut.
Kesengajaan dalam pembakaran hutan tersebut otomatis akan membawa dampak bagi daerah khususnya masyarakat disekitar, yaitu :
1.    Timbulnya kabut asap
Akibat pertama yang akan ditimbulkan dari adanya kebakaran hutan ialah kabut asap. Kabut asap merupakan akibat yang hampir selalu terjadi ketika terjadi kebakaran hutan. Bagaimanapun juga api yang membakar sesuatu pastilah menimbulkan asap, tak terkecuali api yang membakar pepohonan yang ada di dalam hutan. Semakin banyak wilayah hutan yang terbakar maka akan semakin banyak pula asap yang ditimbulkan dan semakin banyak pula wilayah yang akan terkena bahaya kabut asap.
Selain dapat membuat udara tercemar, kabut asap ini juga akan menghalangi jarak pandang seseorang sehingga kemungkinan banyak transportasi umum tidak beroperasi dan juga kendaraan pribadi pun akan kesulitan saat beroperasi di jalan- jalan. Hal ini lah yang sempat menjadi bencana nasional pada tahun 2015 di Indonesia, bahkan hingga ke negara- negara tetangga.
2.    Matinya pepohonan
Dampak selanjutnya yang akan ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah matinya pepohonan. Ketika kita membakar sesuatu, sudah menjadi suatu kewajaran apabila sesuatu tersebut akan layu atau mati. Hal ini juga terjadi pada pepohonan yang ada di dalam hutan.
Ketika pohon- pohon yang ada di hutan mengalami kebakaran, maka secara otomatis pohon tersebut akan mati. Sedangkan kita sendiri mengetahui secara pasti bahwa pohon sangatlah penting keberadaannya. Sehingga kita dapat membayangkan sendiri apa yang akan terjadi apabila banyak pepohonan yang mati akibat kebakaran hutan. Hal ini pastilah akan menimbulkan banyak dampak buruk seperti polusi udara karena asapnya, kurangnya pasokan oksigen, tempat berlindung hewan- hewan manjadi mati, dan lain sebagainya.
3.    Matinya binatang
Selain pepohonan yang mati, tidak menutup kemungkinan juga bahwa akan banyak binatang yang mati akibat kebakaran hutan. Hutan merupakan rumah bagi banyak sekali binatang (baca: fungsi hutan). Bermacam- macam binatang yang hidup di dalam hutan mulai dari mamalia, amfibi, reptil, serangga, burung, dan lain sebagainya. Maka dari itulah ketika hutan mengalami kebakaran tidak menutup kemungkinan bahwa binatang- binatang tersebut akan ikut mati. Terebih bagi binatang- binatang habitat aslinya di hutan tersebut dan sulit untuk melakukan penyelamatan diri. Oleh karena itulah ketika terjadi kebakaran hutan maka banyak binatang yang akan mati dan menjadi langka.

4.    Binatang tidak mempunyai tempat tinggal
Selain binatang- binatang yang mati, masih tersisa pula binatang yang hidup. Binatang- binatang yang masih hidup tersebut pada akhirnya akan kehilangan tempat tinggal karena hutan telah rusak dan pepohonan yang berada di dalamnya yang notabene adalah rumah mereka pun sudah mati.
Akibatnya habitat atau lingkungan mereka juga akan mati dan mereka tidak akan mendapatkan hal- hal yang menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Binatang- binatang tersebut kemungkinan akan kesulitan mandapatkan makanan, air bersih, dan yang pasti tempat tinggal untuk sekedar berteduh dan berlindung dari predator- predator yang berkeliaran mencari mangsa.
5.    Terganggunya keseimbangan alam
Dampak selanjutnya yang ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah terganggunya keseimbangan alam. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya salah satu fungsi yang dimiliki hutan adalah sebagai penyeimbang alam, baik dengan menetralisir udara maun sebagai penyimpan cadangan air yang ada di dalam tanah (baca: jenis-jenis air di Bumi). Ketika hutan yang menjadi penyeimbang alam terbakar, maka secara otomatis keseimbangan alam menjadi terganggu.
Udara yang penuh polusi tidak ada penetralnya lagi, malah akan tambah berpolusi karena kebakaran menimbulkan asap. Kemudian akar- akar pohon tidak mampu menyerap air secara banyak lagi karena fungsi akar pohon menjadi terganggu. Sejak saat itulah tanpa kita sadari keseimbangan alam menjadi terganggu dan bahkan sangat terganggu. Oleh karena itulah kebakaran hutan seringkali dikategorikan sebagai peristiwa alam yang sangat serius keberadaannya dan harus segera ditangan serta dicegah agar tidak mudah terulang kembali.
6.    Banjir
Banjir seperti yang kita ketahui bersama dapat ditimbulkan ketika hujan turun dengan lebatnya. Banjir ini sangat memungkinkan terjadi apabila hutan terbakar dan pepohonan menjadi mati. Hal ini karena akar pohon yang tidak berfungsi dengan baik. Oleh karena itulah ketika hujan turun (terlebih dengan lebat dan intensitas yang lama) maka hal ini akan otomatis akan menimbulkan banjir.
Banjir yang terjadi di wilayah hutan akan sangat merugikan terlebih bagi manusia, binantang dan tentu tumbuh- tumbuhan. Banjir yang terjadi di wilayah hutan ini akan berefek menimbulkan erosi tanah karena tidak ada penopang untuk tanah dan juga akan menimbulkan tanah longsor apabila wilayah tersebut adalah wilayah yang berbukit- bukit. Oleh karena itulah sebisa mungkin banjir ini jangan sampai terjadi dan melanda wilayah hutan karena hutan sendiri merupakan penyeimbang alam yang harus selalu stabil kondisinya.
7.    Kurangnya cadangan air di Bumi
Selain timbulnya banjir, ada pula dampak lain yang bisa ditimbulkan dari kebakaran hutan, yakni kurangnya cadangan air yang ada di dalam tanah. Jika banjir kemunginan akan melanda ketika musim hujan turun, maka kekurangan cadangan air di Bumi akan melanda ketika musim kemarau tiba (baca: pembagian musim di Indonesia). Kita telah mengetahui bersama bahwa fungsi akar pohon salah satunya adalah menyerap dan menyimpan cadangan air di dalam Bumi.
Ketika akar pohon sendiri rusak dan tidak stabil kondisinya, mana mungkin akar pohon tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik, termasuk juga fungsi menyimpan cadangan air. Tentu saja hal ini tidak akan berfungsi dengan baik sehingga cadangan air yang ada di dalam tanah akan menipis dan bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari.
8.    Polusi udara
Terjadinya polusi udara merupakan dampak yang tidak bisa dipisahkan dari kebakaran hutan. Bagaimanapun juga asap yang bisa ditimbulkan dari kebakaran hutan ini akan dapat menyebar ke wilayah sekitar sehingga akan menimbulkan polusi udara yang akan merambah ke wilayah- wilayah sekitarnya, bahkan radius beberapa kilometer.
Polusi udara ini tidak hanya berasal dari asap yang ditimbulkan semata, namun juga bersal dari gas- gas merugikan yang ditimbulkan akibat dari kebakaran hutan. Gas- gas yang banyak ditimbulkan seperti halnya karbon, dan juga gas- gas rumah kaca lainnya. Polusi udara ini tentu saja akan menimbulkan banyak sekali kerugian yang tidak hanya dirasakan oleh manusia saja namun juga makhluk hidup yang lainnya.

9.    Menimbulkan banyak penyakit
Dampak selanjutnya yang dapat timbul akibat kebakaran hutan adalah timbulnya berbagai macam bibit penyakit. Penyakit- penyakit ini menyerang manusia, binatang, dan juga tumbuh- tumbuhan. Penyakit yang sering timbul akibat kebakaran hutan terutama yang berhubungan dengan pernafasan. Karena bagaimanapun juga, asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan ini secara otomatis akan berbaur dengan udara yang selalu dihirup manusia dan juga hewan.
Asap yang dihirup ini tentu saja akan menyebabkan berbagai penyakit seperi ISPA dan gangguan paru- paru dan saluran pernafasan lainnya. Banyak kasus yang menyebutkan manusia meninggal karena terjangkit penyakit pernafasan saat terjadi kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. Selain masalah atau gangguan pernafasan, masih banyak lagi jenis penyakit yang dapat ditimbulkan karena kebakaran hutan ini. Contoh lainnya adalah iritasi pada mata ataupun kulit.

10. Terjadinya erosi tanah
Erosi tanah juga merupakan salah satu dampak yang dapat ditimbulkan dari adanya kebakaran hutan. kebakaran hutan yang akan mematikan banyak pepohonan yang hidup di dalam hutan ini pada akhirnya, ketika hujan turun akan menyebabkan air akan sulit terserap ke dalam tanah dan akan melewati permukaan tanah. Hal ini berakibat terkikisnya permukaan tanah atau disebut juga dengan erosi tanah. Hal semacam ini apabila tidak segera ditangani maka akan menyebabkan berbagai masalah lainnya yang akan timbul.
Itulah beberapa dampak yang akan ditimbulkan, baik yang sering maupun kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari terjadinya kebakaran hutan. Mengingat ada banyak sekali dampak yang dapat ditimbulkan, maka hal ini memberikan rambu- rambu kepada kita agar kita lebih waspada dalam menjaga hutan kita. Jangan sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diharapakan menimpa hutan yang menjadi penyeimbang alam kita ini. Bagaimanapun juga manusia adalah yang bertanggung jawab atas lestarinya hutan yang ada di Bumi.

Adapun langkah langkah masyarakat disekitar gunung Guntur untuk menanggulangi pembakaran hutan tersebut adalah sebagai berikut :
·         Memperhatikan wilayah hutan dengan titik api yang cukup tinggi yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Wilayah titik api ini harus diperhatikan ketika kemarau panjang terjadi.
·         Tidak membuka lahan atau perkebunan dengan cara membakar hutan.
·         Tidak membuang puntung rokok secara sembarangan di hutan.
·         Tidak meninggalkan api unggun dalam hutan. Api unggun harus dipadamkan terlebih dahulu jika ingin meninggalkan hutan.
·         Melakukan patroli hutan secara berkala untuk mengecek kondisi hutan.
·         Melakukan pemotretan citra secara berkala terutama di wilayah dengan titik api yang tinggi.
·         Menyediakan mobil pemadam kebakaran yang siap untuk digunakan.
·         Apabila terjadi kebakaran hutan berskala kecil, maka lakukan penyemprotan secara langsung ke daerah yang terbakar.
·         Jika kebakaran terjadi dalam skala besar, maka lakukan penyemprotan air dari udara menggunakan helikopter juga membuat hujan buatan.










Kerusakan Terumbu Karang di Raja Ampat
Sumber : kompas.com
Dampak dari kerusakan terumbu karang :
Kerusakan Ekosistem terumbu karang terjadi sebagai akibat pengetahuan nelayan yang kurang memahami dampak kegiatan yang ditimbulkan, hal ini dapat dibuktikan dengan kondisi terumbu karang di perairan desa Tongali sebagai loksi penelitian termasuk rusak jelek hingga rusak sedang dengan prosentase tutupan karang hidup/karang keras (hard coral) sebesar 11.63 % sampai 30.25 %. Selanjutnya di lokasi pembanding sekitar perairan desa Biwinapada dapat dikategorikan rusak sedang hingga baik dengan prosentase tutupan karang hidup/karang keras (hard coral) sebesar 31.45 % hingga 50.81 %.
Dampak yang ditimbulkan akibat kerusakan ekosistem terumbu karang ber- pengaruh terhadap hasil penangkapan ikan oleh nelayan tradisional yaitu adanya ke- cenderungan menurunnya hasil tangkapan pada lima tahun terakhir yakni 4.30 ton (25.95 %) pada tahun 2006 dan 2.47 ton (14.91 %) pada tahun 2010. Hal ini dapat didukung oleh hasil kuesioner, bahwa 100 responden menyatakan hasil tangkapan ikan menurun pada musim ikan maupun pada musim paceklik.
Faktor   sosial   ekonomi   tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kesem- patan kerja lain berkorelasi positif terhadap sikap dan persepsi (perilaku) masyarakat terhadap ekosistem terumbu karang. Yang paling besar pengaruhnya adalah tingkat pendidikan yaitu 53.33 % sampai 68.57 % masyarakat berpendidikan rendah berpersepsi negatif terhadap ekosistem terumbu karang. Alternatif pemecahan masalah adalah dengan peningkatan dan pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan bagi masyarakat dapat meningkatkan pendapa- tan dan membuka kesempatan kerja seluasluasnya bagi masyarakat.

Dalam menanggulangi permasalahan kerusakan terumbu karang yang ada sehingga tidak berkelanjutan dan menyebabkan kerusakan yang berdampak lebih besar lagi, maka diperlukan solusi yang tepat untuk menekan terjadinya hal tersebut seperti :
1.    Peningkatan kesadaran masyarakat dan nelayan akan bahaya yang ditimbulkan dari kerusakan terumbu karang.
2.    Peningkatan pemahaman dan pengetahuan masyarakat dan nelayan tentang terumbu karang.
3.    Melakukan rehabilitasi terumbu karang.
4.    Membuat alternatif habitat untuk mengatasi karang sebagai habitat ikan sehingga daerah karang alami tidak rusak akibat penangkapan ikan.
5.     Mencari akar-akar penyebab dari masing-masing masalah yang timbul dan mencarikan solusi yang tepat untuk mengatasinya.
6.     Melakukan penegakan hukum mengenai terumbu karang khususnya dalam hal pemanfaatan yang bertanggung jawab.
  Adapun hal-hal yang harus dilakukan masyarakat dan nelayan dalam mengantisipasi kerusakan terumbu karang yang semakin parah, diantaranya yaitu sebagai berikut :
1.    Tidak membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut.
2.    Tidak menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang.
3.    Tidak melakukan pemborosan air, semakin banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air yang dibuang ke laut.
4.    Tidak melakukan pembangunan pemukiman di area sekitar terumbu karang.
5.    Tidak melakukan penangkapan ikan dengan cara yang salah seperti pemakaian bom ikan.
Selain itu, adapun upaya yang dilakukan yakni dengan melibatkan masyarakat untuk bekerja sama dalam menanggulangi kerusakan ekosistem terumbu karang. Yakni masyarakat diharapkan mampu menjawab persoalan yang terjadi di suatu wilayah berdasarkan karakteristik sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah tersebut.










Banjir Bandang Di Garut
            Banjir merupakan salah satu kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh 2 faktor yaitu alam dan manusia, ketidak stabilan cuaca dan kurangnya saluran pembuangan air akan menyebabkan banjir jika tidak segera ditanggulangi. Seperti banjir di garut pada September 2016 yang diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi dengan intensitas 255 milimeter, sementara sebelumnya juga terjadi hujan sehingga tanah mengalami kejenuhan menyerap dan terjadi pendangkalan dan penyumbatan saluran-saluran air, selain dari faktor alam, Selain faktor alam, penyebab terjadinya bencana banjir bandang di Garut beberapa hari lalu juga dikarenakan perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan kondisi alamnya, dimana sekarang hutan-hutan lestari di garut dijadikan TWA atau taman wisata alam, dimana pengelola nya bisa bekerjasama dengan perusahaan dan membangun berbagai macam sarana yang menyebabkan berkurangnya area hijau di hutan tersebut, dibangunnya sarana dan prasarana oleh perusahaan tersebut seperti di fasilitasi jalan, hotel, tempat makan yang akan menghancurkan sebagian lahan hijau hutan tersebut. Di Garut tidak sedikit hutan yang sudah dijadikan TWA yang tidak sesuai dengan aturan.
            Cara penanggulangannya, yaitu membuat fungsi sungai dan selokan dapat bekerja dengan baik. Sungai dan selokan adalah tempat aliran air sehingga jangan sampai tercemari dengan sampah atau menjadi tempat pembuangan sampah yang akhirnya menyebabkan sungai dan selokan menjadi tersumbat, melakukan reboisasi tanaman di lahan lahan gundul, dan melarang di dirikannya TWA atau taman wisata alam karena hal itu akan merusak kelestarian alam itu sendiri.















Kerusakan Lingkungan Akibat Industri di Banten

Kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin hari semakin parah. Kondisi tersebut secara langsung tlah mengancam kehidupan manusia. Tingkat kerusakan alam pun meningkatkan resiko bencana alam. Penyebab terjadinya kerusakan alam dapat disebabkan oleh kedua faktor yaitu akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia. Kerusakan lingkungan hidup dapat diartikan sebagai proses deteriorasi atau penerunan mutu (kemunduran) lingkungan. Deteriorasi lingkungan ini ditandai denga hilangnya sumber daya tanah, air, udara, punah nya flora dan fauna liar, dan kerusakan ekosistem. Kerusakan lingkungan hidup memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia seperti tercemarnya lingkungan. Pencemaran lingkungan adalah perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan, sebagian karena tindakan manusia, disebabkan perubahan pola penggunaan energi dan materi, tingkatan radiasi, bahan-bahan fisika dan kimia, dan jumlah organisme. Perbuatan ini dapat mempengaruhi langsung manusia, atau tidak langsung melalui air, hasil pertanian, peternakan, benda-benda, perilaku dalam apresiasi dan rekreasi di alam bebas. Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh industrialisasi dapat meliputi pencemaran udara, air dan tanah.
Dalam menyikapi terjadinya pencemaran atau degradasi lingkungan akibat teknologi industri, perlu adanya itikad yang kuat dan kesamaan persepsi dalam lingkungan hidup sebagai upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan ekonomi. untuk mendapatkan mutu lingkungan hidup yang baik, agar dapat dimanfaatkan secara optimal maka manusia diharuskan untuk mampu memperkecil resiko kerusakan lingkungan. Pengelolaan lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar kita dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Contohnya seperti Menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan pada pengelolaan sumber daya alam, untuk mengurangi aliran permukaan serta untuk meningkatkan resapan air sebagai air tanah, maka diperlukan pembuatan lahan dan sumur resapan dan Reboisasi di daerah pegunungan, dimana daerah tersebut berfungsi sebagai reservoir air, tata air, peresapan air, dan keseimbangan lingkungan.







Pencemaran Air Sungai Citarum di Bandung

Sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan  dan dalam kehidupan manusia. Salah satu  fungsi utama sungai saat ini adalah sebagai sumber air untuk pengairan lahan pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun dalam kegiatan sektor perindustrian. Kelestarian fungsi lingkungan sungai dapat terancam oleh penurunan kualitas airnya. Gejala penurunan kualitas air sungai sekarang ini telah diamati secara mudah terutama gejala pencemaran yang terindera seperti : kebusukan air, kehitaman air, kekeruhan, warna air yang non alami, bau dan efek iritasinya pada kulit manusia dan hewan. Pencemaran air sungai perlu dikendalikan seiring dengan pelaksanaan pembangunan agar fungsi sungai dapat dilestarikan untuk tetap mampu memenuhi hajat hidup orang banyak dan mendukung pembangunan secara berkelanjutan.
Pencemaran air sungai ini disebabkan oleh banyaknya air limbah yang masuk kedalam sungai yang berasal dari berbagai sumber pencemaran yaitu dari limbah industri, domestik, rumah sakit, peternakan, pertanian dan sebagainya. Dalam rangka pengendalian pencemaran air sungai, diperlukan  Pemantauan dan Evaluasi kualitas air sungai lintas di Jawa Barat. Dengan pencemaran air akan merusak ekosistem sungai. Kebanyakan pencemaran dari pembuangan Industri yang membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
Sebenarnya kita sendiri dapat mengurangi pencemaran air, hal ini dapat dilakukan  dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari, mendaur ulang, mendaur pakai, dan tidak membuang sampah ke bantaran sungai, jangan membangun bangunan di sekitar sungai karena itu bisa mempersempit aliran sungai Perlunya kesadaran masyarakat bandung untuk mengelola sungai, seperti mengadakan kerja bakti untuk membersihkan aliran sungai.












Kepunahan Massal Ke-6 Sedang Terjadi, dan Manusialah Penyebabnya
Tak ada yang tahu kapan kiamat akan terjadi. Namun kini, dunia telah memulai proses kepunahan massal, dan manusia bisa menjadi salah satu korban pertama dari proses kepunahan massal tersebut. Para ahli sepakat menyebutnya sebagai kepunahan massal keenam.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, terungkap bila spesies makhluk hidup di bumi akan terus berkurang dalam jumlah yang mengerikan jika hal ini terjadi.
Studi yang dipimpin oleh ahli dari Stanford University, Princeton University, dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat menyatakan, saat ini dunia sedang kehilangan beberapa spesiesnya dalam tingkat kecepatan yang sangat tinggi.
“Tanpa keraguan signifikan, kita saat ini sedang memasuki peristiwa besar, yaitu kepunahan massal keenam,” kata salah satu peneliti, Paul Ehrlich, seorang profesor Universitas Stanford biologi. Dalam 4,5 miliar tahun umur Bumi, sudah ada 5 kepunahan massal yang terjadi. Kepunahan massal terjadi 65 juta tahun silam, yang membawa kepunahan dinosaurus.
Rata-rata, Bumi mengalami dua kepunahan di antara 10.000 jenis mamalia per 100 tahun. Dari data yang berhasil dipelajari, tingkat kepunahan hewan bertulang belakang meningkat hingga 114 kali lipat dalam seratus tahun terakhir dibanding standar kepunahan ‘normal’ yang sudah dibuat ilmuwan. Untuk memulihkan kembali apa yang sudah terlanjur rusak, maka dibutuhkan jutaan tahun bagi alam untuk kembali pulih.
Katak emas Panamian yang dinyatakan punah di alam oleh IUCN. Foto : Rhett A. Butler
Dari hasil penelitian, maka sejak tahun 1900, lebih dari 400 vertebrata lebih dari yang diharapkan telah lenyap. Hewan yang hilang termasuk 69 mamalia, 80 burung, 24 reptil, 146 jenis amfibi, dan 158 jenis ikan, dan saat ini bayang-bayang kepunahan telah menyelimuti lebih dari 26 persen dari semua spesies mamalia dan 41 persen dari semua amfibi.




Tahun 2015 Adalah Tahun Kebakaran Hutan dan Bencana Kabut Asap Terburuk dan Terpanjang di Indonesia
Krisis asap yang diciptakan oleh kebakaran hutan di Indonesia merupakan kejadian tahunan, tapi tahun 2015 menjadi yang paling buruk karena El Niño membuat musim hujan tertunda dan memyebabkan banyak daerah mengalami kekeringan. Bahkan, kabut tahun ini mungkin bahkan telah terburuk dalam sejarah, dengan Indonesia sendiri melaporkan korban tewas 19, dan setengah juta warga menderita penyakit pernapasan.
Kebakaran hutan dan kabut asap yang dihasilkan tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, namun, seperti satwa liar juga merasakan dampaknya, dan kemampuan reproduksi dan fotosintesis tanaman juga berkurang. Kebakaran juga melepaskan sekitar 600 juta ton karbon ke atmosfer, menurut data Global Api Emisi, yang akan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global dan, pada gilirannya, membuat kebakaran hutan di masa depan akan lebih buruk.
Tentu saja, Indonesia bukan satu-satunya negara yang terkena dampak kabut: gambar satelit yang dirilis oleh NASA menunjukkan kabut asap menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara.

Garis merah menunjukkan hot spot. Asap tebal abu-abu melayang di atas kedua pulau dan memicu peringatan kualitas udara dan peringatan kesehatan di Indonesia dan negara-negara tetangga . Sumber : /NASA LANCE MODIS. Kondisi asap dan hotspot saat kebakaran hutan di Indonesia pada 2015. Foto : NASA Earth Observatory / LANCE MODIS Rapid Response.Jepang Terselubung Polusi Udara Cina

Penerbangan dibatalkan, jarak pandang berkurang jauh akibat awan pasir yang bertiup ke sejumlah wilayah di Jepang. Warga diimbau untuk memakai masker dan tinggal di rumah.
Asap kotor berwarna kuning-coklat mulai menyelimuti Teluk Tokyo hari Minggu (10/3), menutupi jembatan Yokohama, dermaga dan distrik Minato Mirai penuh dengan toko, hotel serta kincir ria terbesar di Jepang dengan kabut debu. Banyak warga terlihat tersedak seraya menutupi mulut mereka dengan sapu tangan.
Kota-kota di Cina termasuk yang paling terpolusi di dunia
Akhir pekan lalu Badan Meteorologi Jepang telah memprediksi dampak badai pasir di wilayah utara Cina dan Mongolia terhadap wilayah Kanto di sekitar Tokyo.
Program berita menayangkan grafik penuh warga menunjukkan perkembangan awan asap saat melintasi Kyushu. Situs Kementerian Lingkungan Jepang hampir kelebihan beban melayani warga yang khawatir dan ingin tahu seberapa serius situasi di permukiman mereka.
Hari Sabtu (9/3), pemerintah kota Fukuoka mengumumkan bahwa jumlah rata-rata polutan beracun di udara berada di atas standar resmi nasional dalam dua hari berturut-turut. Standar ditetapkan pada level 35 mikrogram per meter kubik, tapi kini mencapai 42 mikrogram dan sejak 15 Februari lalu sudah tiga kali melebihi standar.
Jarak pandang berkurang
Polutan mengurangi jarak pandang di sejumlah bagian wilayah utara Kyushu hingga sependek 6 kilometer akhir pekan lalu dan mendorong pemerintah lokal mengeluarkan peringatan kepada warga untuk tinggal di rumah dan menggunakan masker saat keluar untuk menghindari penghirupan debu. Warga juga diimbau untuk tidak menjemur di luar ruangan serta menghindari berolahraga atau melakukan aktivitas outdoor lainnya.
Polusi udara mencapai level berbahaya di Cina pertengahan Januari
Kota-kota di bagian selatan Jepang juga melaporkan kondisi serupa, dengan jarak pandang berkurang hingga 5 kilometer di Matsue, pesisir utara pulau Honshu, dan jarak pandang 8 kilometer di Osaka, Kyoto dan Nagoya.
Penerbangan terkena dampak berkurangnya jarak pandang, begitu juga dengan layanan kereta cepat dan lalu lintas kendaraan di jalan tol.
Badai pasir juga menyebabkan suhu tinggi di berbagai penjuru Jepang. Suhu di Tokyo mencapai 25,3 derajat Celcius - suhu tertinggi untuk bulan Maret sejak tahun 1876 menurut laporan media nasional NHK.
'Adidaya polusi'
Majalah berita Shukan Bunshun menyebut Cina sebagai 'adidaya polusi' dan menyalahkan 300 juta ton limbah non-industri yang dihasilkan Cina setiap tahun, dan hanya 157 juta ton yang diproses secara tepat.
Majalah mingguan Shukan Taishu menilai kualitas udara yang buruk sebagai penyebab kematian 300 ribu warga Cina setiap tahun dan 600 ribu lainnya masuk rumah sakit karena keluhan pernafasan.
Menteri Lingkungan Jepang dan Cina - serta rekan sejabat mereka dari Korea Selatan, yang juga terkena dampak buruk emisi industri Cina - dijadwalkan bertemu bulan Mei mendatang untuk mencari cara untuk mengurangi polusi udara.









Sampah Kiriman dan Pentingnya Membaca











Berbeda dengan kasus-kasus biasanya, kali ini kersakan lingkungan yang terjadi faktor tamanya bukan disebabkan oleh masyarakat sekitar, melainkan dari manusia yang tidak sadar akan dampak yang mereka lakukan, terlihat sampah berserakan di pinggir jalan dan bahu jalan, kerusakan ligkungan ini terjadi di daerah Garut tepatnya di Desa Sindangsuka Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut.
Sampah yang tidak beraturan ini merupakan sampah kiriman dari pabrik-pabrik baik dari makananan yang membusuk seperti dari pabrik roti, tak jarang pada tumpukan sampah tersebut terdapat roti-roti yang sudah tidak layak dikonsumsi. Jenis sampah yang terdapat ditumpukkan itu beragam sampah organik dan anorganik seperti smpah plastik. Sering juga ditemui orang yang bukan asli penduduk di sana sengaja membuang limbah rumah tangga seperti popok bayi, limbah plastik bekasan sabun dan lain sebagainya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan karena telah berlangsung bertahun-tahun. Tentu tidak sedikit dampak yang diakibatkan dari sampah ini diantaranya pencemaran udara dari membusuknya limbah organik yang bercampur dengan bahan kimia yang di ada didalam kandungna sampah, longsor akibat tanah yang tidak mampu menahan beban sampah ketika hujan, longsoran itu jatuh tepat sejajar dengan selokan yang berada dibawahnya, hingga selokannya mampet dan banjir hingga meluap kepesawahan yang ada dibawahnya. Membusuknya sampah-sampah ini mengundang binatang bintang seperti lalat dan anjing hingga kenyamanan masyarakat terganggu. Inti dari permasalahan ini adalah tidak adanya kesadaran dalam dirinya bahwa menjaga lingkungan itu penting, mereka tidak memikirkan dampak atas perbuatan mereka, tindakan yang tidak manusiawi ini mungkin tidak merugikan dirinya namun sangat merugikan orang lain(warga sekitar).
Upaya dalam penyelesaian permasalahan juga tidak sedikit yang telah dilakukan, dari mulai bergotong royong membersihkannya, masyarakatpun telah melapor maslah ini kepada pihak berwajib, menindaki orang yang kepergok membuang sampah di sana. Anehnya, telah dipasang juga larangan “DILARANG MEMBUANG SAMPAH DI SINI” namun tetap saja larangan itu tidak berpengaruh apapun, ada saja orang yang dengan enaknya membuang sampah di sana. Orang yang tidak berpenidikan sekalipun pasti dapat membacanya namun mungkin karena kurangnya minat membaca sampai kejadian ini terjadi. Itulah peilaku manusia melakukan perbuatan yang saah padahal tahu betul perbuatan seperti itu tidak boleh dilakukan, serta keegoisan yang tinggi hingga tidak memedulikan dampak bagi orang lai atas apa yang mereka perbuat.


Referensi
·         nationalgeographic.co.id/lihat/berita/1410/ketika-gunung-api-dikalahkan-manusia
·         id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara
·         Gambar : greencorner.blogdetik.com
·         Gambar: id.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar