Postingan Populer

Sabtu, 27 April 2019

OPINI


Abu-abu
Oleh, Rima Nur Rohmah
                Hidup di dunia yang fana ini bukanlah keinginan, harapan atau sebuah kebetulan. Siapa yang akan kita salahkan jika keberuntungan tidak datang di duniamu? Andai ada yang berkenan untuk di salahkan mungkin dia akan mati sebelum satu orang dihadapannya. Setiap langkah hidup adalah masalah, bagaimana tidak? Karena hidup adalah masalah. Bukan hanya hidupmu, hanya saja tidak semua orang beranggapan seperti itu. Sebuah realita kehidupan yang harus dihadapi hal yang lumrah dialami setiap yang bernafas tapi bukanlah hal yang mudah untuk kita terima. Seberapa sering kita merenungkan kehidupan ini? Setiap detik hanya bertambah bingung, karena nyatanya pencarian arti kehidupan tak berujung sampai jantung tak berdetak.
                Tak ingin jadi si penghianat tapi membusuk dalam buah, tak ingin jadi si penipu tapi bibir tak bosan menghianati mata, tak ingin jadi si pecundang tapi punggung kau sandarkan pada pohon yang tak pernah kau siram. Ya, hidup di zaman abu-abu ini memang membenarkan yang tidak tentu benar, tidak ada lagi kebaikan yang benar yang ada hanya setiap kebiasaan adalah benar. Hati sudah lelah untuk merintih tak sedikitpun hati dianggap ada, hanya logika yang dominan.
                Katakan, ungkapkan, yang benar yang baik. Masih biskah membedakannya? Yang ada hanya kesemuan dan abu-abu. Kapan ruh ini akan bangun, bahkan lupa kapan mulanya tertidur. Siapa yang akan membangunkannya? Teman? Teman yang mana? Yang seperti apa? Apa temanmu itu baik? Bukankah berwarna abu-abu juga?
                Lingkungan baru, bukanlah hal spele untuk mempelajarinya. Anggapan bahwa semua orang baik bisa saja sirna, dengan alasan apapun. Ya, terutama penghianatan, hal itu bisa merubah lautan menjadi abu-abu juga. Badai bisa menjadi pelajaran tersendiri sebagai pegalaman hidup. Hanya saja, berkeyakinan bahwa pelangi akan datang setelah badai menghampirinya.
                Langit yang cerah tidak lagi memberi arti apa-apa ketika semuanya masih terlihat abu-abu, mungkin mentari bisa menjadi penyembuhnya. Tapi ternyata tidak, atau mungkin air hujan bisa menghapus luka. Tapi yang terjadi hanya bisa menyelimuti air mata. Hanya saja, air yang mengalir ini memberi arti bahwa hidup harus terus dijalani.
                Hidup terus dijalani bahagia dan merasa nyaman dengan orang-orang yang masih abu-abu. Tak terbayang sebelumnya untuk mengdapat mahkota emas itu harus menghadapi masalah yang menghancurkan keyakinan dan mengoyahkan komitmen. Yang kukhususkan agar yang membaca selalu ingat bahwa “biarlah terasingkan dalam keadaan dirimu sebagai bintang, meskipun mereka tersenyum dalam keadaan bibir membusuk”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar