Abu-abu
Oleh, Rima Nur Rohmah
Hidup di dunia yang fana ini
bukanlah keinginan, harapan atau sebuah kebetulan. Siapa yang akan kita
salahkan jika keberuntungan tidak datang di duniamu? Andai ada yang berkenan
untuk di salahkan mungkin dia akan mati sebelum satu orang dihadapannya. Setiap
langkah hidup adalah masalah, bagaimana tidak? Karena hidup adalah masalah.
Bukan hanya hidupmu, hanya saja tidak semua orang beranggapan seperti itu.
Sebuah realita kehidupan yang harus dihadapi hal yang lumrah dialami setiap
yang bernafas tapi bukanlah hal yang mudah untuk kita terima. Seberapa sering
kita merenungkan kehidupan ini? Setiap detik hanya bertambah bingung, karena
nyatanya pencarian arti kehidupan tak berujung sampai jantung tak berdetak.
Tak ingin jadi si penghianat
tapi membusuk dalam buah, tak ingin jadi si penipu tapi bibir tak bosan menghianati
mata, tak ingin jadi si pecundang tapi punggung kau sandarkan pada pohon yang
tak pernah kau siram. Ya, hidup di zaman abu-abu ini memang membenarkan yang
tidak tentu benar, tidak ada lagi kebaikan yang benar yang ada hanya setiap kebiasaan
adalah benar. Hati sudah lelah untuk merintih tak sedikitpun hati dianggap ada,
hanya logika yang dominan.
Katakan, ungkapkan, yang benar
yang baik. Masih biskah membedakannya? Yang ada hanya kesemuan dan abu-abu.
Kapan ruh ini akan bangun, bahkan lupa kapan mulanya tertidur. Siapa yang akan
membangunkannya? Teman? Teman yang mana? Yang seperti apa? Apa temanmu itu
baik? Bukankah berwarna abu-abu juga?
Lingkungan baru, bukanlah hal
spele untuk mempelajarinya. Anggapan bahwa semua orang baik bisa saja sirna,
dengan alasan apapun. Ya, terutama penghianatan, hal itu bisa merubah lautan
menjadi abu-abu juga. Badai bisa menjadi pelajaran tersendiri sebagai pegalaman
hidup. Hanya saja, berkeyakinan bahwa pelangi akan datang setelah badai
menghampirinya.
Langit yang cerah tidak lagi
memberi arti apa-apa ketika semuanya masih terlihat abu-abu, mungkin mentari
bisa menjadi penyembuhnya. Tapi ternyata tidak, atau mungkin air hujan bisa
menghapus luka. Tapi yang terjadi hanya bisa menyelimuti air mata. Hanya saja, air
yang mengalir ini memberi arti bahwa hidup harus terus dijalani.
Hidup terus dijalani bahagia dan
merasa nyaman dengan orang-orang yang masih abu-abu. Tak terbayang sebelumnya
untuk mengdapat mahkota emas itu harus menghadapi masalah yang menghancurkan keyakinan
dan mengoyahkan komitmen. Yang kukhususkan agar yang membaca selalu ingat bahwa
“biarlah terasingkan dalam keadaan dirimu sebagai bintang, meskipun mereka
tersenyum dalam keadaan bibir membusuk”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar